Sedang detik mendesak menit mendorong jam menyibak hari menembus minggu ditelan bulan,
aah…..aku tak bisa mengejar waktu yang melesat
juga senyuman yang singgah
di tembok-tembok resah
Ku ingin menangkap bayang di antara kata-kata yang meluncur dari lidahmu
menjaga tahun dalam jiwamu
menikmati hari yang gugur dari minggu-minggu membeku.
Karena diamku
Kau tak pernah tahu
dalam dadaku ada nama
dan bukan lagi sebuah rahasia
Friday, 20 August 2010
Lagi dan Lagi
Seperti beringan itu, keangkuhan berdiri dan kita bersembunyi di antara gerai akar yang memamerkan keindahan sunyi
Kenapa kita mampir di sini padahal rembulan telah terbakar sore tadi
Daun-daun berjelaga karenanya dan angin semakin enggan menyapa
Lantas kepada siapa kita akan bercerita?
Kenapa kita mampir di sini
Tape goreng tak lagi menarik hati,
sementara musisi itu terus saja bernyanyi
lagunya tak pernah bisa kita mengerti
Lantas kapan kita akan saling berbagi?
Seperti gelaran tikar di trotoar
Kita duduk di atasnya membuka mata kenangan juga pembicaraan yang seringkali memabukkan
Tetapi keangkuhan tetap berdiri meski tak ada lagi yang sedia mempersaksi
Kenapa kita mampir di sini padahal rembulan telah terbakar sore tadi
Daun-daun berjelaga karenanya dan angin semakin enggan menyapa
Lantas kepada siapa kita akan bercerita?
Kenapa kita mampir di sini
Tape goreng tak lagi menarik hati,
sementara musisi itu terus saja bernyanyi
lagunya tak pernah bisa kita mengerti
Lantas kapan kita akan saling berbagi?
Seperti gelaran tikar di trotoar
Kita duduk di atasnya membuka mata kenangan juga pembicaraan yang seringkali memabukkan
Tetapi keangkuhan tetap berdiri meski tak ada lagi yang sedia mempersaksi
Entahlah
Kau tahu kapan benang-benang hujan manjerat malam-malam kita?
Memadu kasih hanya kita berdua
Kapan borgol cinta memasung hatiku, lalu memenjarakan dalam hatimu?
Aku pun tak tahu.
Satu hal yang aku tahu
Aku lebih beruntung dari bulan purnama penuh ditemani bintang
Saat kau menjadi tongkat dalam meraih asa
Saat kau menabur kata-katamu dalam gundah
Tetaplah disini menjadi sahabatku
Bukannya enggan menyambut cinta tulusmu,,
Cuma aku tak diberi peran dalam takdir,menjadi orang yang bisa menjaga cintamu
Tidak atau mungkin belum
Maaf…
Titik cintamu,,,,titik cintaku,,,,
Sang Sutradara Agung yang tahu
Memadu kasih hanya kita berdua
Kapan borgol cinta memasung hatiku, lalu memenjarakan dalam hatimu?
Aku pun tak tahu.
Satu hal yang aku tahu
Aku lebih beruntung dari bulan purnama penuh ditemani bintang
Saat kau menjadi tongkat dalam meraih asa
Saat kau menabur kata-katamu dalam gundah
Tetaplah disini menjadi sahabatku
Bukannya enggan menyambut cinta tulusmu,,
Cuma aku tak diberi peran dalam takdir,menjadi orang yang bisa menjaga cintamu
Tidak atau mungkin belum
Maaf…
Titik cintamu,,,,titik cintaku,,,,
Sang Sutradara Agung yang tahu
Monday, 16 August 2010
65 Tahun Indonesiaku

Menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-65 pada tanggal 17 Agustus 2010 ini, sebagai anak muda ( yang merupakan anak-anak bangsa ), ada baiknya kita mengetahui sejarah tentang Detik-Detik Menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945
Sayang sekali jika anak muda yang merupakan generasi penerus Bangsa Indonesia tidak mengerti Sejarah Perjuangan Bangsa sendiri, Indonesia tercinta ini
Berikut fakta sejarah yang terjadi pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ( diperoleh dari berbagai rangkuman sumber sejarah Bangsa Indonesia antara lain dari : Sekretariat Negara RI & Wikipedia ) :
Perdebatan Antara Golongan Tua & Golongan Muda
Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.
Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI ). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama sekali dari campur tangan pemerintah Jepang. Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekanan-penekanan golongan pemuda kepada golongan tua yang mendorong mereka melakukan “aksi penculikan” terhadap diri Soekarno-Hatta ( lihat Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:77-81 )
Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat kediaman Bung Karno, berlangsung perdebatan serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi ( 1984:58 ); Ahmad Soebardjo ( 1978:85-87 ) sebagai berikut:
” Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi !” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ” Kita harus segera merebut kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ” Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; ” Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”
Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil berkata: ” Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”. Hatta kemudian memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu ?”
Namun, para pemuda terus mendesak; ” apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam ‘Perang Sucinya ‘!”. ” Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla masikan kemerdekaannya ?Mengapa bukan kita yang menyata kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa ?”. Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; “…kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya ? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak ?Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan ? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri “. Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.
Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda nampak tidak puas. Mereka mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.
Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi “penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi ( 1984:60 ). Bung Karno marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.
Rengasdengklok kota kecil dekat Karawang dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA ( Pembela Tanah Air ) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15 km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.
Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta . Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan rencana mereka sendiri. Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas; ” Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …”. ” Lalu apa ?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.
Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; ” Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17 “. ” Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?” tanya Sukarni. ” Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “. Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi ( 1984:61 ).
Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta . Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta ( Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:82-83 ).
Merumuskan Teks Proklamasi Kemerdekaan
Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno. Rumah Laksamada Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya. De Graff yang dikutip Soebardjo ( 1978:60-61 ) melukiskan sikap Maeda seperti ini. Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.
Sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang telah melihat lebih banyak dunia ini dari rata-rata seorang perwira Angkatan Darat , ia mempunyai pandangan yang lebih tepat tentang keadaan dari orang-orang militer yang agak sempit pikirannya. Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa. Ia adalah pejabat yang bertanggungjawab atas Bukanfu di Batavia; kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia. Ia tidak khusus membatasi diri hanya pada tugas-tugas militernya saja, tetapi agar dirinya dapat terbiasa dengan suasana di Jawa , ia membentuk suatu kantor penerangan bagi dirinya di tempat yang sama yang pimpinannya dipercayakan kepada Soebardjo. Melalui kantor inilah, yang menuntut biaya yang tidak sedikit baginya, ia mendapatkan pengertian tentang masalah-masalah di Jawa lebih baik dari yang didapatnya dari buletin-buletin resmi Angkatan Darat. Terlebih-lebih ia memberanikan diri untuk mendirikan asrama-asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia . Pemimpin-pemimpin terkemuka, diperbantukan sebagai guru-guru untuk mengajar di asrama itu. Doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Lebih lincah dari orang-orang militer, ia berhasil mengambil hati dari banyak nasionalis yang tahu pasti bahwa keluhan-keluhan dan keberatan-keberatan mereka selalu bisa dinyatakan kepada Maeda. Sikap Maeda seperti inilah yang memberikan keleluasaan kepada para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang maha penting bagi masa depan bangsanya.
Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco ( kepala pemerintahan umum ), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah menyatakan menyerah kepada Sekutu, maka berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo . Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis kebi jakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerde ¬ kaan. Melihat kenyataan ini, Soekarno-Hatta sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicara kan soal kemerdekaan Indonesia dengan Jepang. Mereka hanya berharap agar pihak Jepang tidak menghalang-ha langi pelaksanaan proklamasi kemerdekaan oleh rakyat Indonesia sendiri ( Hatta, 1970:54-55 ).
Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan tua maupun dari golongan pemuda, menunggu di serambi muka.
Menurut Soebardjo ( 1978:109 ) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam, rumusan teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan konsep proklamasi pada secarik kertas. Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai , sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan ( transfer of sovereignty ). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.
Setelah kelompok yang menyendiri di ruang makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di ruangan itu. Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo ( 1978:109-110 ) melukiskan suasana ketika itu: “ Sementara teks Proklamasi ditik, kami menggunakan kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang dapur, yang telah disiapkan sebelumnya oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya bercampur dengan beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri di samping saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin . Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka pertemuan dini hari itu dengan beberapa patah kata.
“Keadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing“. Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama menandatangani naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia . Saran itu diperkuat oleh Mohammad Hatta dengan mengambil contoh pada “Declaration of Independence ”Amerika Serikat. Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang tidak setuju kalau tokoh-tokoh golongan tua yang disebutnya “budak-budak Jepang” turut menandatangani naskah proklamasi. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah proklamasi itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia . Usul Sukarni itu diterima oleh hadirin.
Naskah yang sudah diketik oleh Sajuti Melik, segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Persoalan timbul mengenai bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan kepada rakyat di seluruh Indonesia , dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut Soebardjo ( 1978:113 ), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondong-bondong kelapangan IKADA pada tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi Soekarno menolak saran Sukarni. ” Tidak ,” kata Soekarno, ” lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden ? Lapangan IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi .” Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.
Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia ( Hatta, 1970:53 ).
Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak standar, karena kainnya berukuran tidak sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.
Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang sakit, malamnya panas dingin terus menerus dan baru tidur setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak berdatangan, rakyat yang telah menunggu sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.
Marwati Djoened Poesponegoro ( 1984:92-94 ) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.
“Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu“. ( Koesnodiprojo, 1951 ).
Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: ” lebih baik seorang prajurit ,” katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.
Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.
Setelah upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi ( 1984:77 ) mengemukakan bahwa ada sepasukan barisan pelopor yang berjumlah kurang lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi. Mendengar teriakan itu Bung Karno tidak sampai hati, ia keluar dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar keterangan itu Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi. Selesai upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopormasih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.
Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi (1984:79) datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan menunggu di ruang belakang, tanpa diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga terpaksa berpakaian lagi. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno: ” Kami diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi .” ” Proklamasi sudah saya ucapkan,” jawab Bung Karno dengan tenang. ” Sudahkah ?” tanya utusan Jepang itu keheranan. ” Ya, sudah !” jawab Bung Karno. Di sekeliling utusan Jepang itu, mata para pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit. Sementara itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar ( saat itu belum ada rol film ). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu, dokumentasinya hanya ada 3 ( tiga ) ; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran bendera, dan sebagian foto hadirin yang menyaksikan peristiwa yang sangat bersejarah itu.
Sunday, 25 July 2010
Cara Alam Menghibur Kita
Pernahkah kita mengalami ketika hujan deras mengguyur, kita lupa
membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. Namun,
ketika kita siapkan jas hujan, justru panas dan terik datang membakar
hari. Sebalkah anda?
Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi perjalanan
malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita
ingin melaju dengan tenang, pengendara lain malah membunyikan
klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah anda? Mengapa
keadaan seringkali tak bersahabat? Mereka seakan meledek, mengecoh,
bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan
"ketidakmujuran"?
Sadari saja. itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam
mengajak kita tersenyum, menertawakan diri sendiri, dan bergurau secara
nyata. Kejengkelan itu muncul dari kerena kita tak mencoba bersahabat
dengan keadaan. Kita hanya mementingkan diri sendiri. Kita lupa bahwa
jika toh keinginan kita tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya
dengan senyum, meski serasa kecut, tak apalah.
membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. Namun,
ketika kita siapkan jas hujan, justru panas dan terik datang membakar
hari. Sebalkah anda?
Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi perjalanan
malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita
ingin melaju dengan tenang, pengendara lain malah membunyikan
klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah anda? Mengapa
keadaan seringkali tak bersahabat? Mereka seakan meledek, mengecoh,
bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan
"ketidakmujuran"?
Sadari saja. itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam
mengajak kita tersenyum, menertawakan diri sendiri, dan bergurau secara
nyata. Kejengkelan itu muncul dari kerena kita tak mencoba bersahabat
dengan keadaan. Kita hanya mementingkan diri sendiri. Kita lupa bahwa
jika toh keinginan kita tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya
dengan senyum, meski serasa kecut, tak apalah.
hayahMboh….
apakah aku harus mengetuk agar kau bukakan pintu atau akan menunggu saja sampai kau sendiri membukanya untukku?
Ahh…paling tidak aku akan mengucapkan 'selamat malam' saja meski sesungguhnya lebih dari.
kita pun sesungguhnya tak pernah bisa mengerti mengapa kita bertemu saat ini
engkau melempar batu sebagai air aku pun berpendaran lalu menyatu di dalam keheningan meski kita pun sama sama tak tahu sampai kapan kita bisa hanya diam tak bersuara
Berhentilah kita menciptakan teka teki itu.
Tetapi benarkah engkau yang kemudian disini.
Membakar masa lalu dengan api masa depan.
Ahh…paling tidak aku akan mengucapkan 'selamat malam' saja meski sesungguhnya lebih dari.
kita pun sesungguhnya tak pernah bisa mengerti mengapa kita bertemu saat ini
engkau melempar batu sebagai air aku pun berpendaran lalu menyatu di dalam keheningan meski kita pun sama sama tak tahu sampai kapan kita bisa hanya diam tak bersuara
Berhentilah kita menciptakan teka teki itu.
Tetapi benarkah engkau yang kemudian disini.
Membakar masa lalu dengan api masa depan.
Thursday, 24 June 2010
24 Juni...Miladku
24 Juni, dua puluh tiga dua tahun yang lalu aku membuka mata untuk pertama kali di dunia ini. Dilahirkan melalui rahim seorang ibu yang hidup di pedesaan dengan keluarga bahagia. Rabu pahing, aku merengek untuk pertama kali di dunia ke duaku.
24 Juni, hari ini, tanpa ucapan selamat ulang tahun dari orang yang aku harapkan mengucapkannya untukku, tapi tak mengapa, dan aku mendapat puluhan ucapan selamat ulang tahun di email dan sms. Terimakasih keluargaku, sahabat-sahabatku, temen-temenku, kalian yang selalu ingat 24 Juni…
Dan kini aku mau absen mengucapkan selamat ulang tahun yang ke 23 diriku yang masih single (hehehe).
Selamat hari lahir diriku yang ke 23…
Ya Rabb, semoga aku tambah iman dan taqwanya, tambah dewasa,
tambah rizqinya, diberikan kekuatan, kesehatan, perlindungan, diberikan jodoh yang baik, dan selalu beruntung di masa depan yang cerah nanti…
hepi besde to me..
Saturday, 19 June 2010
sahabat, ya,,,,
”Apakah arti sahabat bagimu? Seberapa pentingkah mereka bagi hidup kita? Dan bagaimanakah cara kita menjaga persahabatan?”
Hohooo....ga sengaja aku baca blog temanku dan menemukan kata-kata itu kemudian membuatku berfikir lama dan teringat sahabat-sahabatku. Orang-orang yang bagiku sungguh spesial. Aku yakin, dengan segala ketidak sempurnaanku, pastilah ada saat-saat dimana aku pernah bersalah, sengaja maupun tidak. Pasti ada.
Bagi aku, sahabat-sahabatku memiliki jiwa besar, kelembutan hati, penyayang, penuh empaty, good listener dan merupakan sosok-sosok yang selalu aku cari ketika ingin bertukar fikiran. Walaupun untuk topik yang berbeda-beda. Aku merasa sangaaaaatt bersyukur telah diberi hadiah sahabat-sahabat yang begitu indah.
Ya… bagiku, sahabat adalah hadiah;
Karena, dibalik segala kekurangan aku mereka masih tetap mau saling bertukar kabar, baik dengan sms-sms, kadang telpon, chatting singkat, saling menasehati, menyemangati, atau bahkan saling berkirim email-email singkat.
Demikianlah dulu. Hatur nuhun untuk teman-teman yang selalu memaafkan kesalahan-kesalahan aku, sehingga sampai detik ini masih senantiasa saling bercerita… Engkau sungguh berharga.
Dan aku selalu percaya bahwa sahabat sejati tidak pernah benar-benar bermaksud menyakiti hati sahabatnya.
Lalu bagaimana arti sahabat menurut Anda, sahabat-sahabatku….:)
Hohooo....ga sengaja aku baca blog temanku dan menemukan kata-kata itu kemudian membuatku berfikir lama dan teringat sahabat-sahabatku. Orang-orang yang bagiku sungguh spesial. Aku yakin, dengan segala ketidak sempurnaanku, pastilah ada saat-saat dimana aku pernah bersalah, sengaja maupun tidak. Pasti ada.
Bagi aku, sahabat-sahabatku memiliki jiwa besar, kelembutan hati, penyayang, penuh empaty, good listener dan merupakan sosok-sosok yang selalu aku cari ketika ingin bertukar fikiran. Walaupun untuk topik yang berbeda-beda. Aku merasa sangaaaaatt bersyukur telah diberi hadiah sahabat-sahabat yang begitu indah.
Ya… bagiku, sahabat adalah hadiah;
Karena, dibalik segala kekurangan aku mereka masih tetap mau saling bertukar kabar, baik dengan sms-sms, kadang telpon, chatting singkat, saling menasehati, menyemangati, atau bahkan saling berkirim email-email singkat.
Demikianlah dulu. Hatur nuhun untuk teman-teman yang selalu memaafkan kesalahan-kesalahan aku, sehingga sampai detik ini masih senantiasa saling bercerita… Engkau sungguh berharga.
Dan aku selalu percaya bahwa sahabat sejati tidak pernah benar-benar bermaksud menyakiti hati sahabatnya.
Lalu bagaimana arti sahabat menurut Anda, sahabat-sahabatku….:)
Karya "Kahlil Gibran"

WAKTU
Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.
Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.
Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang? Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.
PERSAHABATAN
Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?..Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.
Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.
CINTA
AKU bicara perihal Cinta????…
Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia
kan menyalibmu.
Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula dia ada untuk pemanakasanmu.
Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.
Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.
Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.
Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.
Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.
Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.
Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.
Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.
Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.
Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.
Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;
Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;
Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu.
Tuesday, 15 June 2010
Lagi Lagi Tentang Cinta

Pernahkah Anda mengalami jatuh cinta dengan sahabat dekat Anda sendiri? Tahukah Anda mengapa rasa nyaman dari persahabatan bisa berubah menjadi cinta?
Salah satu cara yang dipakai oleh para cowok untuk mendekati cewek yang disukainya adalah dengan memberikan rasa nyaman. Tidak salah memang karena cewek benar membutuhkan rasa nyaman. Hal yang paling sering dilakukan oleh cowok adalah memulai pendekatannya dengan mengisi posisi sebagai best-friend bagi cewek. Mendengarkan keluh kesah si cewek dengan sabar dan memberikan saran bijak sambil berharap dalam hati si cewek akan menyadari kedewasaan Anda dan tertarik pada Anda Tentu saja Anda juga akan curhat dengan si cewek dan berharap si cewek akan melihat kemurnian hati Anda.
Namun jangan salah, ketika Anda berpikir bahwa si cewek merasa nyaman saat berbicara dengan Anda, maka belum tentu dia menyukai Anda. Hal yang sering terjadi adalah si cewek nyaman curhat dengan Anda, namun ujung-ujungnya malah jadian dengan cowok lain. Padahal sangat jelas terlihat bahwa si cewek jauh lebih nyaman membuka hatinya kepada Anda dibandingkan dengan cowok tersebut, dan Anda hanya menjadi kebagian sampahnya saja, baru ketika si cewek membutuhkan penghiburan atau ada masalah, maka dia akan datang kepada Anda.
Menjadi hal yang salah ketika Anda membuat si cewek nyaman, hanya demi membuat ia tertarik kepada Anda. Ingatlah satu hal bahwa, rasa nyaman tidak sama dengan rasa suka ataupun cinta. Hanya karena cewek merasa nyaman bersama Anda, maka bukan berarti dia tertarik pada Anda, sebaliknya ketika cewek tertarik dengan cowok, maka bukan berarti dia langsung merasa nyaman bersama dengannya.
Untuk menjadi best-friend para cewek bukan hal yang salah, justru dengan menjadi sahabat baik suka ataupun duka, akan menjadi hal terbaik yang bisa dilakukan seseorang. Hanya saja, hal tersebut jangan dilakukan kepada seseorang yang Anda sukai, sebelum Anda memastikan bahwa ia benar tertarik dengan Anda. Dengan begitu, Anda boleh menjadi ‘best-friend’ dengan cewek tersebut, namun tentunya dengan kadar secukupnya.
Jika memang si cewek sudah suka dengan Anda, maka apapun yang Anda lakukan terserah Anda. Namun, jika si cewek bahkan belum suka sama sekali dengan Anda, atau suka tapi tidak lebih dari sekedar teman, maka jangan pernah Anda curhat mengenai masalah atau sifat dan kelemahan Anda di depannya.
Lalu bagaimana jika Anda sudah tahu bahwa dia belum suka dengan Anda, namun dia mendadak memiliki masalah dan ingin curhat dengan Anda? Tetap saja Anda belum boleh membuat ‘best-friend’ dengannya, namun Anda bisa menunjukkan batasnya antara hanya teman curhat dan seorang pria yang ingin menjadi pacarnya. Jika si cewek berkata hanya membutuhkan teman curhat, maka Anda dapat menolaknya sehalus mungkin. Hal ini dikarenakan teman curhat adalah tugas dari teman-teman ceweknya dan para cowok yang berharap lebih darinya.
Jika si cewek berkata membutuhkan nasihat dari seorang cowok, maka di sinilah Anda dapat beraksi. Berikanlah saran terbaik, tunjukkan bahwa Anda adalah pria yang dewasa, berprinsip dan berbeda dari kebanyakan cowok, dengan tidak takut untuk memberikan kritikan pedas jika si cewek membutuhkannya. Dengan mengetahui hal ini, bukan berarti membuat Anda menjadi takut untuk menjadi best-friend si cewek atau cowok, namun hanya sebagai bekal agar Anda tidak salah duga dan kemudian akhirnya hanya gigit jari.
Tapi inget, ada bedanya lho antara suka, tertarik, dan cinta...
Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
Saat kau TERTARIK menyayangiI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.
Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.
*SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata “Sudahlah, jgn menangis.”
*TERTARIK adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
*CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu sambil berkata, “Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama.“
*SUKA adalah hal yang menuntut.
*TERTARIK adalah hal memberi dan menerima.
*CINTA adalah hal yang memberi dengan rela.
Sunday, 13 June 2010
PIALA DUNIA DAN FISIKA

Piala dunia 2010 baru-baru ini dibuka. Perputaran drama komedional berganti dengan kehirukpikukan exotisme panggung bola. Apa yang terjadi memang susah untuk diprediksi, itulah serunya nonton bola. Ekspresi histeris, sedih, bangga, dan fantastik adalah ekspresi normal yang terblock up dari event ini. Sejenak merenungi, hakikat sebuah permainan bola. Bola sebuah bentuk yang sangat banyak dialam. Lihat saja dari bentuk pohon, pasti mengandung unsur bola dan bulat, lihat aja mata berawal dari suatu bola dan bulat, liat aja bentuk kaki berawal dari bentuk bola yang diperpanjang hingga berbentuk tabung, liat saja contoh yang ciptaanNya yang lain pasti berawal dari bola dan bulat. Begitu juga penciptaan manusia dari sel telur yang juga bentuknya bola. Nah, secara alamiah saja kita sudah sangat erat dengan bentuk bola. Mungkin itu sebabnya banyak manusia yang menyukai permainan dengan menggunakan bola. [ nyambung ga .. ? so pasti ]. Dan tidak ada yang membendung, setiap orang bisa menyukai permainan ini. Siapa bilang olahraga football ini adalah pemicu bias gender, ga ada cerita dalam sejarah manapun.
Pernahkan terpikir bola erat kaitannya dengan fisika. Ehm,.. pemain bola yang jitu pasti ahli fisika, tapi ahli fisika belum tentu pemain bola [ konjungsi matematis heheh.. iyo ora se???] Sebenarnya pemain sepak bola bisa diapresiasikan sebagai ahli fisika di lapangan hijau. Karena, setiap pemain bola sebisa mungkin harus mampu mengukur dengan tepat berapa besar gaya yang harus diberikan dan ke mana arah bola harus ditendang. Ujung-ujungnya kecepatan bola menjadi sangat kencang dan akurat. Seorang pemain bola yang handal ia pasti mengetahui perhitungan sudut elevasi pada saat pemasukan bola ke gawang. Pada saat bola ditendang, secara otomatis bola melakukan rotasi, dan dari rotasi tersebut akan menimbulkan pergeseran udara, dari pergeseran udara disekitarnya itu akan menimbulkan ruang yang tersentuh bola dan ruang yang tidak tersentuh bola. Udara yang tersentuh bola, mempunyai kecepatan lebih dari pada udara yang tidak tersentuh bola. Udara yang mengalami sentuhan bola akan menimbulkan tekanan, maka berlakulah hukum Bernouli semakin kecil tekanannya, kecepatannya akan semakin besar, akibatnya gaya melengkung kebawah akan lebih menukik ke gawang dengan sempurna. Ehm…ga rugi ne belajar fisika.
Masih ingat dengan Pelle yang terkenal dengan tendangan pisangnya, ataupun Beckham yang terkenal dengan tendengan melengkungnya yang akurat, atau bahkan Roberto Carlos yang tajir habis dengan tendangan cornernya [ mantan fansnya neeh .. ]. Ketika Beckham menendang bola secara keras dengan sisi sepatunya sehingga bola dapat berotasi cepat sekali, bola melambung dan mulai membelok akibat adanya efek magnus. Gesekan bola dengan udara akan memperlambat gerakan bola (kecepatan bola berkurang). Jika rotasi bola tidak banyak berubah, pengurangan kecepatan dapat menyebabkan efek magnus bertambah besar, akibatnya bola melengkung lebih tajam, masuk gawang, membuat penonton terpesona dan berdecak kagum.
Atau juga bagaimana Jan Koller menggunakan konsep momentum, tumbukan, dan momentum sudut yang tepat untuk menggerakkan kepalanya dan menyundul bola ke gawang musuh. Lihat juga Zidane dengan menggunakan keseimbangan yang sempurna melakukan tendangan voli yang indah dan memasukkan bola ke gawang lawan. Di arena Piala Dunia 2010 ini kita bisa menikmati lebih banyak lagi bagaimana asyiknya fisika diterapkan dalam sepak bola. Coba saja perhatikan bagaimana nanti kiper Italy memanfaatkan hukum pemantulan untuk menepis tendangan-tendangan maut dari para pemain lawan. Atau perhatikan bagaimana David Villa menggunakan konsep keseimbangan ketika menghentikan bola dengan tubuh atau kakinya
Bola bukan permainan biasa, cowok, cewek , anak kecil, orang tua , setengah dewasa pun ada yang menyukai permainan ini. Bukan hal mustahil world cup pun menjadikan ajang hiburan yang fantastis abiz. Media yang memblock up pun semakin banyak saja, mulai dari kuis, hingga interaktif dengan penggemar dengan berkunjung ke episentrum word cup . [ episentrum? Kayak pusat gempa aje …]. Semua merupakan dunia glamouristik bola. Dan permainan inipun adalah permainan yang mengeruk kantong para penggemarnya, dibela-belain ke negara episentrum pertandingan bola kalo sekarang ada di Afrika selatan. Abang Nelson Mandela berada.
Bukan hal yang mustahil fans bola akan melakukan segala cara untuk mencari julukan sejati football crazy. Persis inget pas SMA dulu, anak ABG melengkapi pernak perniknya dengan segala accecoris bola. Pokoknya semua accecorisnya harus club ini semua, atau artis bola ini semua. Begitu masuk kamar, yang ada adalah poster bintang pemain bola, beserta club-clubnya, tak hanya itu bagi crazier Bekcham akan meniru potongan rambut, gaya hidup, serta tingkah laku Bekcham tersebut. Namanya juga idola, apapun selalu idola yang jadi nomor satu. Euforia sesaat yang mendatangkan banyak peluang bisnis. Dalam memenuhi animo masyarakat yang meledak. Kaos, sepatu tokoh idola santer menyedot konsumen yang ngakunya football crazy. [ hayo… ngaku …]
Ehm,.. yach kalo nonton sekedar cari hiburan ga papa. Dari pada cari hiburan yang nggak-nggak. Jadi teringat jargon partai pemula yang lucu tapi energik, “ Yen mikir yo mikir, yen ora yo ora. Ojo mikir sing ora-ora “ . Jangan berpikir pas cari hiburan kita harus punya idola, dan lebih parah lagi idola tadi mempengaruhi gaya hidup kita. Alhasil gaya kehidupan yang berubah mirip dengan artis bola, menjadikan kita jauh dari aturan Islam. Lha wong mereka aja bukan orang Islam kok. Begitu juga kalo mengidolakan bintang artis musik, sinetron, atau yang lain. Intine ojo dadi fans fanatik. (hahaha…rodo kalem sitik ra po2 to??)
Gini-gini mantan football crazier, seri world cup dulu mpe sekarang ngefans ma Italy. Kalo seri Italia, ngefansnya ama milanisti, I rosseneri. Dengan stiker yang jozz karena minum ekstra jozz walau tidak jadi bintang iklan ektra joss karena kesambet sama Inzahgi. Siapa lagi kalo tidak Ricardo Kaka ma Pato ( walo sekarang Kaka telah hengkang ke Real Madrid dan Pato sering cidera).
Ayo dukung timnas Indonesia di Piala Dunia entah tahun berapa...hehee :)
Subscribe to:
Posts (Atom)