Kemarin wanita yang ku cintai duduk dalam kamar yang kokoh dan sepi ini
Kemarin dia menyandarkan kepalanya yang penuh cinta di atas bantal-bantal berbunga yang lembut ini. Dari cangkir ini dia meminum seteguk air.
Semua itu terjadi kemarin. Kemarin adalah mimpi yang tak kan kembali. Hari ini wanita yang ku cintai telah pergi jauh menuju sebuah tanah seberang, jauh..
Bekas jari-jari tangannya masih Nampak pada kaca cerminku. Wangi nafasnya masih berbau dalam lipatan-lipatan bajuku. Suaranya masih menggema dalam sudut-sudut kamarku. Namun wanita itu sendiri(wanita yang aku cintai) telah menjelajahi tempat yang jauh. Bekas jari tangannya, wangi nafasnya, hantu-hantu jiwanya, akan tetap hidup dalam kamar ini sampai besok pagi. Lalu akan ku buka jendela kamarku untuk membiarkan aliran udara menyapu semua yang ditinggalkan wanita itu untukku.
Potret wanita yang aku cintai masih tergantung di samping tempat tidurku. Surat yang dia kirimkan masih ada dalam kotak rahasia. Semua ini akan tetap ditempatnya sampai pagi. Ketika pagi tiba, akan kubuka jendela kamar dan membiarkan udara membawa pergi kegelapan benda mati ke tempat dimana kesunyian yang bodoh berada.
Aku mengenalnya pada saat remaja. Aku melihat gambaran wajahnya di halaman buku-buku dan tulisan-tulisan. Kulihat kerangka tubuhnya diantara mega-mega langit dan mendengar melodi suaranya muncul bersama riak-riak aliran sungai.
Aku mengenalnya pada saat aku adalah laki-laki dewasa. Aku duduk bersamanya saling bertanya jawab. Aku dating padanya mengeluhkan siksaan hatiku dan menceritakan rahasia jiwaku.
Semua itu terjadi kemarin. Kemarin adalah mimpi yang tak kan kembali. Namun hari ini wanita itu pergi ke tempat yang jauh…
Nyanyian Burung Hantu
aku dan gelap adalah kekasih
letih bersama oleh gairah dan dipisahkan tawa
malam hari aku nyanyikan lagu-lagu rindu
ia mendekat dan aku mendekap
aku meramaikan dingin gelapnya dengan mulutku
kita bercumbu..sesekali ada jeda tuk ia lepaskan peluh
kuceritakan tentang cahaya yang mengganggunya
seberapa sering aku duduk di ranting kering pohon jambu
menjerat bulan agar ia tak takut lagi
tersenyum aku membelainya, ia bisu
saat fajar merangkak
membangunkan hari dan meratakan malam
bersama mencari ruang untuk kita melukis mimpi
tersenyum aku membelainya, meskipun ia tetap bisu
No comments:
Post a Comment