Laman

SELAMAT DATANG

Tuesday, 21 July 2009

KKN ooooohhh KKN

Sebagaimana yang telah kita ketahui salah satu fungsi KKN bagi mahasiswa adalah dapat menjadi agent of change dalam segala aspek, termasuk kontribusi terhadap masyarakat. Sebab berbagai masalah dapat bermunculan dalam masyarakat dengan ukuran yang tak pasti, maka perlu satu waktu dan tempat bagi mahasiswa untuk merealisasikan ilmu yang didapat agar kebenaran ilmu itu nyata.

Hari ini abad 21 yang ditandai dengan majunya teknologi komunikasi dan ilmu pengetahuan maka mahasiswa dituntut mampu menghadapi hal tersebut. Tempat KKN selayaknya dapat direlokasikan pada masyarakat sesuai skill mahasiswa agar keseimbangan dalam proses interaksi antar mahasiswa dan masyarakat terjalin harmonis. Sebagai contoh masyarakat pedesaan yang jauh dari keterbatasan informasi dan teknologi pantas menjadi objek bagi perguruan tinggi dimanapun dalam penyelenggaran KKN.

Tanpa mengecilkan potensi masyarakat pedesaan dalam mengembangkan diri mereka, namun jarak perbedaan desa dan kota jauh dan jelas. Dan menjadi pertanyaan bagi kita sebagai mehasiswa bila tempat KKN berada di kota. Mahasiswa sudah mengenal perkotaan dengan segala permasalahan. Maka jangan heran salah satu asumsi secara psikologis peserta KKN akan mengalami “stress”. Berbeda apabila kita melihat potensi mahasiswa melakukan KKN di desa, secara fungsi mahasiswa di anggap oleh masyarakat sebagai “super hero” yang memberikan pencerahan terhadap sesuatu yang mereka belum dengar dan lihat. Bayangkan bila KKN di kota, sungguh sial rasanya mahasiswa tatkala melakukan hal tersebut. Bagaimana tidak, posisi mahasiswa yang tumbuh di perkotaan akan bosan sebab tidak menemukan sesuatu yang baru. KKN juga menjadi tantangan bagi mahasiswa yang tumbuh di pedesaan. Sebab problema di perkotaan akan menjadi hal baru karena secara psikologis gambaran pedesaan sudah diketahui terlebih dahulu.

Tanpa mempermasalahkan kehebatan perkotaan dan pedesaan, perlu dipikirkan kembali oleh pihak penyelenggara dalam perancanaan tempat agar kegiatan KKN tak hanya untuk menyelesaikan mata kuliah semata. Karena mahasiswa akan menghadapi realita kehidupan yang sebenarnya setalah lulus nanti. Maka pencarian dan penempatan lokasi KKN harus yang temasuk daerah tertinggal dan kompetensi mahasiswa itu sendiri dalam menghadapi sebuah masalah agar dapat menghasilkan kontribusi nyata dan dapat dinikmati masyarakat. Maksudnya janganlah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sebagai contoh mahasiswa jurusan komunikasi seharusnya ditempatkan pada masyarakat yang memang membutuhkan pengetahuan tersebut, bukan mengajari bagaimana caranya memasang biopori, tapi sedikitnya membuka cara berpikir masyarakat agar melek teknologi informasi. Bila tidak, sama saja penyelenggara KKN membunuh potensi mahasiswa untuk mengembangkan dirinya dalam mengabdi pada masyarakat.

Mudah-mudahan pada mahasiswa yang akan melaksanakan KKN betindak cerdas dalam menanggapi permasalahan di tempat KKN. Kita tidak bisa memaksakan kapasitas sebagai mahasiswa agar permasalahan di masyarakat selesai. Namun kita hanyalah mediator antara masyarakat dan pemerintah. Tanpa memperkecil fungsi KKN , tampaknya pihak institusi setiap perguruan tinggi se Indonesia haruslah mau “berkorban memfasilitasi” mahasiswa melakukan KKN ke lokasi daerah tertinggal yang hari ini belum tersentuh oleh kita sebagai mahasiswa. Dan menjadi petanyaan kembali bagi mahasiswa yang tumbuh dan berkembang di kota, “apakah penting KKN di perkotaan?”. Selama mahasiswa tetap tersenyum, walau kita sering dibunuh kreativitas hidup oleh formalistik ilmu.

inilah markas para petinggi kelurahan Tegalpanggung, kelompok KKN Tegalpanggung 10 pertama mengucapkan salam dan,,,,,"weeee eee eee eeee ee e e e....KKN di kota tho"

No comments:

Post a Comment